Kamis, 28 April 2022

Tak ada yang bisa menolak kematian. Saat kematian memasuki ruangan, semua kesenangan hilang. Kebahagian berganti menjadi duka. Awan hitam kegelapan menyelimuti setiap relung jiwa yang ditujunya. Dan sekali lagi tak ada yang bisa menghindarinya.

Rasa rindu menyelimuti hatiku yang sepi ini. Teringat kembali masa-masa kelam  saat bersamamu Enago, ada canda-tawa, nangis dan bertengkar. Mengenang sesuatu yang manis bercampur pahit. Biarkan ku simpan dalam memori hidupku.  Ya, tujuh hari sudah berlalu kau menghilang dari pandangku untuk selamanya.

Air mata ini seraya aliran sungai yang tak pasti di mana letak ujungnya. Bayanganmu seolah telah melekat pasti di dalam jiwa dan ragaku. Sampai di bawah batas kesadaranku pun aku tak mampu sama sekali untuk melupakanmu.

“wahai Enagoku…”
“apa yang sebenarnya terjadi kepadamu?”
“hingga kau tega meninggalkan amo sendiri?”
“apa salahku?”
“katakanlah Enago Waee…”
“jika amo salah tegur amo”
“maafkan amo”
“mungkin hati kecilku, yang amat dalam terasa berat dengan perpisahan ini, namun semua rencana sudah terlanjur dan sudah diatur oleh Tuhan”

Sayang aee...!!
Apikopa wae, semoga Tuhan memberikan tempat yang layak disisiNya. Tiada yang kekal di bumi, sampai jumpa di waktunya Tuhan.

Amolee adalah Kalimat yang selalu Enago ucap dan akan ku ingat dan ku ingat selalu.

Koya uwiii...!!!
Noe Enago 😭😭


Minggu, 17 April 2022

Si Dodi di tempat keramat.

Aku Dodii...!!!

Apapun impiku akan aku impikan. 

Berjalan dng waktu. Ekonomi keluargaku semakin merosot, dan terfikir dibenakku, sebuah GOA tempat pertapaan yang banyak HANTU.

Singkat cerita...!!

Setiba di GOA tersebut, pertapaan pun di mulai. Tidak seberapa lama kemudian penghuni goa pun keluar dan menemui aku.

Kami pun berbincang.

Hantu: "Apa yang, bisa ku bantu?"

Dodii: "Aku kesini, untuk mencari kekayaan."

Hantu: "Aku, akan memberikan apapun yang kamu minta.

Asalkan kamu mau turuti kemauanku. (Syarat 2)

Dodii: "aku akan turuti kemauamu?"

Hantu: "Ini yang ku maksudkan." (tumbal).

Dodii: iya.

Dodii pun bergegas pergi dari tempat pertapaannya. Untuk mencari tumbal. Ia pun melewati Jurang terjang, Gunung-gunung, lembah-lembah serta Lautan pun ia sebrangi.

Di benaknya Dodii, Hanyalah TUMBAL (KADO) yang diminta dari si penjaga GOA.

Setiba di kota ia mengatur strategi untuk membunuh KORBAN yang tak BERSALAH, untuk di jadikan tumbal.

Sekian....!!!

#GoaHantuPuSETANmasukKOTA?

#KoBawaDatangUntukTongJadiTumbal?

#KoDatangUntukHABISKANkitaKha?


Kamis, 17 Maret 2022

Tujuan Apa? Pemekaran Provinsi di PAPUA.

====================
Ada wacana pemekaran wilayah di Indonesia. Sembilan provinsi baru itu adalah Tangerang Raya, Bogor Raya, Cirebon, Banyumasan, Daerah Istimewa Surakarta, Jawa Utara, Madura, Mataraman atau Jawa Selatan, dan Blambangan.

Pemerintah dengan tegas menolak pemekaran wilayah, pemerintah juga menjelaskan beberapa alasan.

Moratorium pemekaran DOB itu dilakukan karena Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang dihasilkan oleh DOB masih rendah. Selain itu, kemampuan keuangan negara belum memungkinkan untuk menopang seluruh operasional yang dilakukan oleh DOB.

Alasan lainnya, kondisi fiskal nasional sedang difokuskan untuk penanganan Covid-19 dan pemulihan ekonomi nasional.

Keuangan negara juga belum memungkinkan, terutama karena masih diperlukannya pembiayaan prioritas-prioritas pembangunan nasional yang bersifat strategis seperti infrastruktur, pendidikan, kesehatan, dan sumber daya manusia.

Sayangnya disisi lain, ada kebijakan kekhususan yang mendorong pemekaran wilayah Papua dengan empat RUU Papua Barat Daya, Papua Pegunungan Tengah, Papua Tengah, Papua Selatan.

#ToloDOB | #TolokOTSUS | #BakuTIPU


Minggu, 06 Maret 2022

Francis Kati yang menulis di website Uncen (6/12/2007) pemekaran kabupaten-kabupaten baru di Tanah Papua adalah impian para koruptor dan calon koruptor. Menurut saya, kesimpulan ini tidak hanya berlaku bagi pemekaran kabupaten tetapi juga pemekaran provinsi. Perlu ditambahkan pula bahwa para pelopor pemekaran ini adalah elit-elit lokal yang menggunakan koneksinya dengan elit-elit di Jakarta dan memanipulasi massa setempat untuk memperoleh atau mempertahankan kekuasaannya.

Coba simak siapa para pelopor pemekaran-pemekaran ini. Pada kasus Irian Jaya Barat, elite lokal itu adalah Bram Ataruri dan Jimmy Idjie yang memiliki hubungan dekat dengan elite PDIP dan Kepala BIN waktu itu yaitu Hendropriyono. Calon provinsi Papua Tengah dimotori oleh beberapa pejabat pemkab dan Bupati Nabire sendiri Drs. Anselmus Petrus Youw yang masa jabatannya akan berakhir (Cepos, 17/1/2007). Papua Barat Daya dimotori oleh mantan Sekda Papua yang pernah gagal menjadi gubernur pemekaran Irian Jaya Tengah Dortheus Asmuruf, mantan aktivis Presidium Dewan Papua (PDP) Don Flassy, ​​dan David Obaidiri (Cepos, 15/1/2007). Papua Selatan dimotori oleh Bupati Merauke dua periode John G. Gebze yang masa jabatannya juga akan berakhir. 

Dalam upaya memperoleh dukungan publik, alasan utama para pelopor pemekaran adalah memperpendek rentang kendali pemerintahan dan meningkatkan pelayanan publik. Pada kenyataannya tujuan pelayanan publik itu tidak pernah diperhatikan. Yang terjadi seperti kata Francis Kati yakni memperpendek rentang kendali korupsi, atau dengan kata lain meluaskan medan dan kemudahan korupsi.

Dengan membuat provinsi dan kabupaten baru, peluang baru jabatan gubernur bagi bupati-bupati yang sudah habis masa jabatannya terbuka. Dengan kabupaten-kabupaten baru para elit lokal Papua memiliki kesempatan untuk mendapatkan kekuasaan yang lebih besar. Peluang untuk menjadi anggota DPR provinsi dan kabupaten serta peluang menduduki jabatan-jabatan seperti kepala dinas, kepala biro dan kepala bagian juga terbuka. Bagi para anggota, pemekaran membuka peluang untuk menjadi pegawai negeri sipil. Bagi aparat, keamanan ada peluang untuk membuat struktur teritorial semacam Kodim baru, Polda baru, atau Polres baru.

Pemekaran tentunya menciptakan proyek-proyek infrastruktur: gedung-gedung kantor dan fasilitas pemerintah lainnya. Semua ini adalah proyek yang dinantikan karena peluang korupsi terbuka lebar. Akibat logistiknya, sebagian besar anggaran negara yang seharusnya digunakan untuk pelayanan masyarakat malahan untuk pembangunan fasilitas provinsi dan kabupaten yang baru. Dalam jangka pendek, anggaran pelayanan publik pasti akan terserap ke sana.

Produk dari pemekaran adalah tumbuhnya rumah mewah yang tersebar di kota-kota di tanah Papua dan bahkan di luar Papua yang merupakan milik para pejabat Papua dari provinsi dan kabupaten lama maupun yang baru hasil pemekaran. Mobil-mobil mewah edisi terbaru yang memenuhi jalan-jalan di Jayapura adalah juga milik pejabat pejabat baru itu. Korupsi di Papua dilakukan dengan sangat kasar dan terlalu mudah untuk membongkarnya bagi KPK. Hanya saja belum ada langkah signifikan ke arah sana.

Pemekaran hasilnya sangat merugikan masyarakat. Tetapi para pejabat Papua sangat pandai dalam membagi sebagian hasil korupsinya terutama pada konstituennya yang biasanya berasal dari suku atau klennya. Orang-orang yang mendapatkan bagian korupsi inilah yang siap untuk berdemo ke Jakarta atau ke Jayapura mengatasnamakan masyarakatnya. Dalam kekuasaannya, sebagian besar pejabat di Papua lebih bertindak sebagai orang besar atau kepala suku dalam pengertian daripada berperilaku sebagai pejabat modern. Uang negara disalahgunakan untuk diri sendiri dan menjaga loyalitas konstituennya (McGibbon, 2004).

Pemekaran juga mempertajam segregasi etnis di kelas orang asli Papua. Banyak proposal kabupaten baru yang dibuat oleh individu-individu dari kelompok suku atau etnis yang kalah bersaing di provinsi atau kabupaten yang lama. Dengan pemekaran persaingan ketat tidak diperlukan lagi karena biasanya kabupaten baru diisi oleh elit-elit lokalnya sendiri dan tertutup bagi kelompok etnis Papua lainnya. Bahkan di tingkat distrik pun permusuhan tradisional antarklen juga mendorong pemekaran distrik baru. Jika diberi peluang terus, fragmentasi di kalangan orang asli Papua akan semakin menguat seiring dengan berkembangbiaknya pemekaran.

Sementara elit Papua disibukkan oleh jabatan baru dan uang korupsi, pelayanan publik terabaikan. Yang tidak banyak disadari adalah bahwa peluang dominasi pendatang juga semakin besar. Sektor produksi, perdagangan dan jasa di daerah pemekaran pasti hanya dapat diisi oleh para pendatang yang lebih siap. Pos-pos pekerjaan yang membutuhkan keterampilan dan keahlian segera dikuasai oleh pendatang. Banyak orang asli Papua, baik para elitnya maupun masyarakatnya, kecuali menjarah uang negara, pasti tidak akan diuntungkan dalam situasi seperti ini.

Di dalam pemekaran tidak ada obsesi pembangunan dalam arti sebenarnya. Para pejabat Papua pernah mengatakan bahwa uang negara yang dijarah tidak akan habis, seperti halnya persediaan sagu di hutan atau ikan di laut. Di dalam pemekaran ini tidak ada obsesi perlindungan dan pemberdayaan orang asli Papua. Jika anda membiarkan pemekaran terus berlangsung, cita-cita untuk menyejahterakan orang asli Papua. Yang terjadi hanyalah elit Papua dengan sesama orang asli Papua. Sementara itu peluang untuk maju dan bertahan dalam jangka menengah dan panjang tetap di tangan pendatang.

Sumber.Artikelmuridanpapua


Persoalan Papua itu kompleks, rumit dan sulit, serta berat dan tidak bisa diselesaikan dengan pendekatan pemekaran, moncong senjata dan kesejahteraan. Kompleksitas, Kerumitan, dan kesulitan ini bisa dicari solusi yang bermartabat dan adil serta damai, kalau kita semua mengerti  13 akar persoalan Papua, yaitu : Rasisme, fasisme, kolonialisme, militerisme, imperialisme, kapitalisme, ketidakadilan, pelanggaran HAM, genosida, ekosida, marginalisasi, diskriminasi, status politik/sejarah penggabungan Papua ke wilayah Indonesia. 

Penyelesaian 13 akar soal ini harus inklusif,yaitu PBB, Amerika, Belanda, Indonesia dan Papua duduk bersama-sama. Karena, rakyat Papua korban karena konspirasi politik demi kepentingan sumber daya alam di Papua. 

Jadi, Negara tidak boleh bersembunyi dibalik mitos-mitos, stigma  dan label: OPM, KKB, Separatis, Makar, Teroris." 

(Gembala Dr. A.G.Socratez Yoman,MA). Ita Wakhu Purom, Minggu, 6 Maret 2022.


Selasa, 01 Maret 2022

DI WAMENA, NOKEN SAMBUT BAYI BARU LAHIR

Bagi Wanita Lembah Baliem Wamena, Wajib Hukumnya sumbang Noken kalao seorang bayi dilahirkan. Mereka bahkan sudaa merajut noken sejak bayi masi dalam kandungan sang ibu. Tradisi ini memiliki makna bahwa seorang bayi yang lahir polos tanpa busana ini harus dibungkus dengan noken sebagai tempat tidur dan untuk digendong saat beraktifitas. Seorang Ibu dianggap tidak tau adat kalo menjenguk bayi tanpa dibekali sebuah Noken.

 Noken merupakan warisan suku-suku yang termasuk ras Melanesia yang ada di tanah Papua. Setiap suku di Papua memberi nama sendiri untuk tas multifungsi ini ke dalam bahasa daerah masing-masing. Masyarakat Lembah Baliem Kabupaten Jayawijaya menyebut Noken dalam bahasa daerah adalah Su..

Layaknya wanita didunia yang menyukai tas,  tak terkecuali Wanita di Wamena. Para Wanita di wamena merasa tidak lengkap kalau tidak menggunakan noken atau su, pada saat mereka  melaksanakan acara- acara adat dan pesta pesta adat dan juga acara pernikahan wanita , bahkan kemanapun mereka pergi harus menggantungkan noken dikepala, karena jika mereka tidak menggunakan noken merasa  tidak lengkap. Inilah yang membuat wanita di wamena sangat identik dengan Noken atau Su,

Noken atau Tas tradisonal ini memiliki banyak manfaat bagi masyarakat Jayawijaya dan pegunungan tengah Papua, antara lain membawa hasil kebun, kayu api, atau ternak yang dipanen dari kebun untuk dijual di pasar atau sebaliknya. Pelajar dan mahasiswa juga banyak yang menggunakan Noken, berukuran kecil, untuk membawa buku dan alat tulis. Bahkan di era sekarang di Wilayah Pegunungan Papua, Noken menggantikan peran  kotak suara pada pemilihan Umum.

 Dari semua manfat Su tersebut yang paling penting bagi masyarakat Lembah Baliem Wamena adalah Su yang juga memiliki nilai budaya yang masih sangat tinggi dan melekat di wamena. Pada pesta adat tertentu Suh berperan penting sebagai alat barter atas sumbangan ternak babi yang diberikan keluarga pada pesta adat tersebut. 

Nilai budaya lainnya dari  Su atau Noken yang hingga saat ini masi berlaku bagi masyarakat Lembah Baliem Wamena adalah saat seorang bayi yang baru dilahirkan. Bagi masyarakat pribumi  Wamena wajib hukumnya kalo seorang bayi dilahirkan keluarga dari sang ayah dan ibu si bayi tersebut harus menyambut bayi itu dengan Suh atau Noken. Mereka bahkan suda mulai merajut  Su semenjak bayinya masih dalam kandungan si Ibu. Masyarakat wamena akan dianggap tidak tau malu dan tidak tau  adat jike menjenguk bayi tanpa membekali hadiah sebuah noken. Ini sebuah tradisi yang suda ditanamkan sejak moyang yang artinya seorang bayi yang baru lahir dengan polos dan tanpa busana ini harus di bungkus dalam Noken, sebagai tempat tidur, dan untuk digendong oleh sang ibu saat beraktifitas. Ketika masyarakat mendengar kabar jika keluarganya yang sedang hamil telah melahirkan, mereka akan menjenguk sambil membawa Suh atau Noken yang telah disiapkan sebelumnya. 

Su yang disumbang kelurga ini jumlahnya bisa mencapai 50 hingga 100 Noken bahkan lebih tergantung jumlah keluarga sang ayah dan ibu dari bayi baru lahir tersebut.

Lalu apa yang akan dilakukan setelah noken-noken ini terkumpul? tentu akan digunakan untuk mengisi bayi . Tapi sebelumnya sebagian dari Su ini akan diserahkan kepada keluarga bapak dari sang bayi yang oleh masyarakat wamena menyebutnya su korok. Korok (melepaskan dari gantungan) artinya melepas noken dari gantungan dan menyerahkan kepada keluarga sang aya dari si bayi, sebagai bentuk melepaskan beban. Korok harus diserahkan kepada keluarga ayah  bayi baru lahir tersebut tidak meneruskan marga atau fam kelurga Wanita melainkan keluarga laiki-laki sehingga Korok harus diserahkan kepada pihak laki-laki. Setelah  sebagaian dari noken atau suh tersebut dibagi sebagai Korok kepada keluarga  Selebihnya su yang telah disumbang keluarga digunakan sebagai tempat untuk mengisi  atau menggendong bayi.

Tradisi mengisi bayi kedalam noken atau suh tidak serta merta mengisi bayi tersebut kedalam noken tapi disini ada juga aturannya tersendiri.

Su yang terkumpul tersebut  selanjutnya akan dibagi menjadi 3 bagian untuk mengiisi bayi, masing-masing “Aleka, A Su” (tempat isi bayi), “salek”  Penutup Lapisan ke dua dan “Asu Lakulik” atau penutup paling luar. Ketiga lapisan ini masing-masing akan disisipkan 4 lembar Su.

4 noken Pada lapisan pertama atau yang disebut dengan Aleka Su / Asu akan disatuhkan dan  diikat sebagai tempat untuk mengisi bayi. sebelum mengisi bayi  pada bagian ini, dahulu sebelum adanya pemerintah akan disi daun pisang dan beberapa daun lain sebagai alas. Namun dierah saat ini, lapisan ini akan dimasukan kain dan bantal menggantikan daun pisang tersebut.

Sementara 4 Noken lainnya dilapisan ke 2 yang disebut Salek sama halnya dengan Aleka  Su, bagian ini juga  akan diikat jadi satu, tapi salek tidak bisa mengisi bayi, karena 4 lembar noken tadi  bukan disatukan layaknya 4 Su Pertama melankan disusun.

Selanjutnya Lapisan paling luar adalah Suh Lakulik. Bagian ini yang biasanya harus pilih Su atau noken yang warnanya menarik, bagian paling luar ini tidak bisa dipasang sembarang noken. Biasanya akan dipilih oleh para ibuh yang suda cukup berpengalaman untuk menentukan warna maupun kualitas dari noken tersebut,

Setelah dipilih empat Noken, sama halnya lapisan  pertama dan ke-2,  Lapisan ini juga akan diikat jadi satu. Tapi cara mengikatnya tidak seperti lapisan-lapisan sebelumnya. Caranya  setiap pegangan dari ke-4 noken tersebut akan dililit jadi satu sampe tidak kelihat bagian pangkal bawa sehingga orang awam akan sulit membedahkan bagian pangkal dan ujung atau pegangan dari Noken tersebut.

Dalam penggunaannya lapisan ini sewaktu-waktu bisa dirubah –penampilan luarnya. Dalam hal ini dari 4 noken pada lapisan ke-3 tersebut sang ibu dari si bayi sewaktu- waktu bisa gonta-ganti noken dengan warna yang berbeda setiap saat jika ingin menggantinya.

Setelah semua tahapan ini dilalui, selanjutnya si bayi baru lahir akan di sisi kedalam Su Noken sebagai tempat tidur tetapi juga sebagai tempat gendong saat sang ibuhnya beraktivitas. Cara menggendongnya bukan di lengan sebagaimana penggunaan tas modern melainkan di kepala. Dari kepala posisi noken menggantung ke bagian belakang dan posisi bayi persisi di bagian Punggung ibu. 

Meski saat ini masyarakat tidak lagi merajut Noken dari bahan alami (kulit beberapa jenis kayu) melainkan noken yang dirajut dari benang modern tapi Tradisi ini masih berlaku bagi masyarakat Bribumi Lembah baliem - Wamena. Keluarga akan mara jika seorang ibu yang menggendong anaknya tidak dengan Noken/ Su.  Naik Motor pun mama di Wamena tetap menggantung Su yang berisi bayi di kepala menggantung ke bagian punggung (Ronny Hisage)


Minggu, 27 Februari 2022

 

Mengenang Sosok Kelly Kualik (KK)


Pada Rabu 16 Desember 2009 dinihari sebelum pukul 3.00 Panglima TPN/OPM Kodap III Nemangkawi (Mimika) Kelly Kwalik (KK) mungkin sedang tidur pulas. Ia berada di sebuah rumah di kawasan yang disebut Gorong-gorong di pinggiran Timika. Kehadirannya tampaknya sudah tercium oleh polisi. Densus 88 menyerbu rumah tersebut dan menembak mati KK yang sudah dicari oleh aparat sejak puluhan tahun lalu. Lima orang yang bersamanya ditahan di Mako Brimob Timika.

Jenazahnya diotopsi di Jayapura dan disemayamkan di depan kantor DPRD Mimika pada 19 Januari 2009. Peti jenazah diselimuti bendera Bintang Kejora. ribuan massa asal pegunungan, terutama Amungme, menyambutnya dengan perhatian dan mendalam yang mendalam. Di mata orang Papua, KK adalah pejuang OPM murni. Dia menjadi simbol perlawanan Papua yang liat, keras kepala, partikularistik, dan tak-ada-matinya meskipun berhadapan dengan letupan senjata selama umur konflik Papua sejak 1960an. Seorang Amungme mengatakan, “Masih akan banyak lagi Kwalik-Kwalik baru yang muncul...”

Media umumnya menggambarkan KK sebagai pemimpin OPM yang bertanggung jawab atas rentetan kekerasan di Mimika, terutama pada kasus penembakan di areal Freeport mile 62-63 pada 2002 dan pada kasus rentetan penembakan pada Juli 2009 yang baru lalu. Saya sendiri ragu apakah KK terlibat langsung pada kedua peristiwa tersebut. Kapolda Papua sebelumnya secara eksplisit mengatakan bahwa OPM khususnya kelompok KK tidak terlibat pada kasus yang terakhir. Video klip yang diputar oleh pihak Kodam XVII Trikora yang berisi pernyataan KK dilupakan stock shot tahun 2006.

KK tumbuh sebagai seorang Amungme yang dididik oleh pendidikan Katolik di Agimuga. Tempat ini merupakan pemukiman baru Amungme yang eksodus dari dataran tinggi di sekitar areal Freeport semacam Tsinga, Hoea, dan Noema pada sekitar 1958. Dari sini, KK sekolah dan tamat SPG di Jayapura pada paruh kedua 1970an. Ketika gejolak politik 1977 meletus, KK baru bergabung dan berada di bawah komando pemimpin OPM Boni “Nayan” Niwilinggame. Sejak itu KK tumbuh menjadi gerilyawan Amungme terkemuka.

Sebenarnya, nama KK mencuat tinggi pada awal 1996 di Mapnduma ketika kelompoknya menyandera Tim Ekspedisi Lorentz '95 yang terdiri dari Biological Science Club Universitas Nasional Jakarta dan Emmanuel College dari Cambridge University Inggris. Pada saat hendak kembali, mereka disandera. KK menuntut agar dunia internasional mengakui kemerdekaan Papua. Drama tersebut berlangsung sejak pertengahan Januari dan berakhir pada pertengahan Mei 1996 oleh operasi ABRI. Akibat bagi warga Amungme sangat buruk. ABRI menyisir kampung sekitar Bela dan Alama mencari pasukan KK dan korban kekerasan berjatuhan di pihak warga sipil Amungme pada sekitar 1997.

Sejak Konggres Papua II 2000 di Jayapura, perjuangan Papua merdeka akan diputuskan dengan jalan damai atau dengan kata lain dialog. Rumor berkembang bahwa kelompok-kelompok OPM di hutan, termasuk KK, mendukung jalan damai dan tidak akan lagi menggunakan kekerasan. Pada tahun-tahun berikutnya, kekerasan akut di Papua ternyata tidak berhenti. Pelakunya biasanya adalah kelompok yang tak dikenal. Pihak negara, terutama cenderung cenderung menuduh OPM sebagai pelaku. Sebaliknya, pihak masyarakat Papua, terutama yang kritis terhadap pemerintah, mencurigai bahwa pelakunya adalah dari kalangan militer Indonesia. Tidak ada yang dapat dipastikan kecuali bahwa kekerasan tetap direproduksi. Seperti suatu siklus...

Prinsip, cara pandang dan penanganan penanganan di Papua terjebak dalam paradigma separatisme. Penuh dengan rumor, intrik, memanfaatkan kepentingan ekonomi terselubung, yang tersembunyi secara nasionalisme dengan jargon sempit baik di pihak negara maupun di pihak Papua. Yang satu “NKRI harga mati”, yang lain “merdeka harga mati”. Fakta terkubur dan akal sehat memajal. Maka setiap kali konflik meletus, selalu ada yang harus mati. acaranya komunikasi politik ikut mati. Kepercayaan juga mati.

Beberapa bagian dominan dari Republik kita masih percaya bahwa represi dan kekerasan negara dapat menyelesaikan konflik Papua atau setidaknya membuat orang Papua berhenti melawan negara. Buktinya selama 40 tahun terakhir paradigma ini terbukti gagal tanpa syarat. Kita Indonesia-termasuk-Papua dipaksa dan dijebak ke dalam siklus kekerasan di antara kita sendiri. Sejarah tak hentinya mencatat lembaran hitam Arnold Ap, Thomas Wanggai, Theys Eluay, Opinus Tabuni, dan banyak lagi. Kini kita tambah lagi dengan KK.

Kita akan menghargai sejarah yang membuat perih dan berat, sarat dengan kebencian dan kebencian. Memoria Passionis...

Foto 1: Kelly berpidato pada 8/5/1996 di Mapnduma (Daniel Start, 1997)
Foto 2: Berdiri: Silas, KK, dan dua kawannya. Jongkok: Murip dan Yudas. (Ibid)
Foto 3: Salah seorang prajurit Kodap III OPM Menangkawi (Mimika)(Ibid) 
Sumber: http://muridan-papua.blogspot.com/2008/11/?m=0

Selasa, 25 Januari 2022

“Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.” Ibrani 11:1

Sebagai umat Kristen kita diminta untuk dapat melihat segala sesuatu dengan “kacamata” Allah. Dengan melihat segalanya dari sudut pandang Tuhan, maka kita dapat mengerti apa yang sedang terjadi dalam hidup kita. Tidak ada segala sesuatu yang terjadi tanpa seijin Tuhan. Dan tidak ada sesuatu terjadi hanya kebetulan saja. Tuhan selalu punya rencana dalam setiap hal yang kita alami. Dan Dia selalu menyediakan yang terbaik bagi hidup kita.

Tetapi tidak demikian yang terjadi dalam banyak kehidupan umat Kristen. Banyak yang selalu protes akan apa yang sedang mereka alami. Timbul berbagai pertanyaan mengapa hal ini terjadi, mengapa hal itu terjadi, mengapa Tuhan ijinkan semuanya dan masih banyak lagi pertanyaan yang muncul ketika segalanya tidak berjalan seperti yang kita harapkan.

Dalam keadaan seperti ini kita seakan hanya dapat melihat ada tembok besar yang menghalangi langkah hidup kita. Tidak ada jalan keluar lagi dan segalanya sudah menjadi berantakan. Kita tidak mengerti bahwa sebenarnya ada berkat yang Tuhan sediakan di balik tembok tersebut. Kita harus mengalami terobosan agar dapat meraih berkat yang telah tersedia.

Lalu bagaimana kita dapat mengalami terobosan dan melihat bahwa Tuhan telah menyediakan yang terbaik bagi hidup kita?


1. Melihat Dengan Mata Iman

“Karena iman ia juga dan Sara beroleh kekuatan untuk menurunkan anak cucu, walaupun usianya sudah lewat, karena ia menganggap Dia, yang memberikan janji itu setia.” Ibrani 11:11

Abraham sadar bahwa secara fisik dia dan istrinya sudah tidak mungkin lagi memiliki anak, karena sudah lanjut usia. Tetapi dia belajar melihat dengan mata imannya bahwa Tuhan sanggup menggenapi apa yang telah dijanjikanNya. Dan Tuhan tidak lalai menepati janjiNya kepada Abraham untuk memberikan seorang anak.

Abraham mengandalkan imannya untuk melihat apa yang Tuhan sediakan jauh di depannya, sehingga ia memperoleh apa yang telah dijanjikan kepadanya.


2. Bangkit Dari Keterpurukan

“Maka bangunlah ia, lalu makan dan minum, dan oleh kekuatan makanan itu ia berjalan empat puluh hari empat puluh malam lamanya sampai ke gunung Allah, yakni gunung Horeb.” 1 Raja-raja 19:8

Setelah mengalahkan empat ratus lima puluh orang nabi-nabi baal, Nabi Elia mendapatkan ancaman oleh Izebel. Izebel sangat marah atas perbuatan Elia dan ingin membalasnya. Elia menjadi sangat ketakutan dan kabur ke padang gurun. Di sana ia merasa putus asa dan ingin mengakhiri hidupnya. Tetapi Tuhan mengirimkan malaikatNya untuk menolong dia. Tuhan menyampaikan pesanNya agar Elia bangun dan bangkit dari keterpurukannya. Dia menyelesaikan tugas-tugas besar yang Tuhan sediakan baginya. Dia tidak mau terintimidasi dengan ancaman tersebut.

Menyadari apa yang Tuhan sediakan di balik setiap masalah yang kita alami tidaklah cukup. Kita harus bangkit dari keterpurukan. Kita harus bangkit dari kesedihan, kekecewaan, sakit hati dan keputus-asaan yang kita alami.

Lepaskan dan tinggalkan segala perasaan tersebut, bangun dan bangkit untuk meraih berkat yang Tuhan sediakan bagi kita. Ada perkara besar yang telah Tuhan sediakan bagi kita yang mau bangkit.


3. Raih Janji Tuhan Dengan Iman

“dan berkata kepada segenap umat Israel: “Negeri yang kami lalui untuk diintai itu adalah luar biasa baiknya. Jika TUHAN berkenan kepada kita, maka Ia akan membawa kita masuk ke negeri itu dan akan memberikannya kepada kita, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya.” Bilangan 14:7-8

Ketika Bangsa Israel akan memasuki Tanah Perjanjian, mereka mengirim dua belas orang pengintai untuk melihat keadaan di sana. Setelah mengintai, sepuluh orang mengatakan bahwa negeri tersebut diduduki oleh para raksasa, dan tidak mungkin dapat dikalahkan (Bilangan 13:32-33). Hanya dua orang pengintai, yaitu Yosua dan Kaleb, yang tetap berkeyakinan bahwa Tuhan pasti akan membawa mereka masuk ke Tanah Perjanjian dan merebutnya dari tangan musuh.

Tuhan telah menyediakan berkatNya bagi kita. Walau demikian ada rintangan-rintangan yang memang harus kita lalui. Tidak sedikit dari rintangan tersebut yang membawa kita kepada duka. Tetapi Tuhan selalu memberikan yang terbaik bagi kita.

Bangsa Israel dibawa berputar-putar di padang gurun selama 40 tahun bukanlah tanpa maksud. Tuhan mengajar banyak hal kepada Bangsa Israel. Demikian pula dengan kehidupan kita. Tuhan sedang mengajar kita dalam berbagai masalah yang kita hadapi. Tuhan ingin agar kita dapat terus melihat janjiNya dan percaya bahwa Dia akan memberikannya kepada kita. Dan Tuhan ingin agar kita pergi meraih janji yang telah disediakan tersebut.

Jangan takut akan berbagai rintangan yang ada. Percayalah bahwa tangan Tuhan akan menuntun kita kepada kemenangan. Yakinlah bahwa Tuhan selalu menolong kita. Lihat janji Tuhan dengan mata iman, bangkit dari keterpurukan dan raih janji Tuhan dengan iman. Haleluya!

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8:28

Sumber: https://www.pelitahidup.com/2013/11/12/terobosan-iman-meraih-janji-tuhan/



Senin, 27 Desember 2021

Pagi ini, sebuah pesan masuk di WhatsApp ponsel Android milikku pesan tanpa nama pengirim. Siapakah yang mengirim pesan itu? Dengan segera aku membuka Pesan WA misterius itu. Kemudian aku membacanya dengan perlahan.

Nabire, 27 Desember 2021

“Dear Jack Amoghy,

Salam Sejahtera. Hai, apa kabarmu Amo? Sudah lama sekali kita tidak bertemu. Kamu pasti bertanya-tanya siapa aku? Nanti juga kamu akan tahu siapa aku, Amo. Oh ya, happy birthday, Amo. Semoga kamu panjang umur, sehat selalu, dan dapat meraih cita dan cintamu. Jumat besok temui aku di taman kota dekat tugu roket. Ku tunggu kamu jam 10 malam. Semoga kamu datang ya. Dan kamu akan tahu siapa aku nanti. Okey, cukup sampai di sini pesanku. Sampai jumpa jumat besok.

Damai Natal Beserta Kita.

From

Your bestfriend”

FP👉🏿 "Tanpa tuntunan Tuhan, aku tak berdaya. Semua kenangan manis maupun pahit ditahun 2021 ini merupakan pengalaman yang berharga dalam hidupku untuk memperbaharuinya dan memulainya di Tahun yang Baru 2022. Teristimewa di hari ini adalah hari yang terindah dalam hidupku, karena Tuhan masih mengijinkan aku mengarungi bahtera kehidupan."

🙏🏿Terimakasih Tuhan Yesus Untuk Semuanya🙏🏿


Rabu, 08 Desember 2021

Saat Susi Pudjiastuti menjabat sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan, muncullah banyak komentar, "Kalau tanpa sekolah saja bisa jadi menteri, mengapa harus capek-capek sekolah dan mengeluarkan biaya besar untuk kuliah?" Lebih lagi, di banyak seminar kewirausahaan, ada banyak pembicara yang menceritakan banyaknya orang yang tidak mengecap sekolah tinggi tapi bisa sukses. Demikian juga orang-orang terkaya di dunia seperti Steve Jobs dan Bill Gates kerap kali disebut-sebut sebagai mahasiswa drop out tapi sangat sukses. Jadi, buat apa sekolah? Apalagi jika kita tahu bahwa arahnya akan menjadi wirausaha yang mana tidak perlu gelar dan ijazah, dan bukan jadi karyawan, buat apa capek-capek sekolah?

Terus terang,  Minimal harus S1, kalau bisa S2 lebih baik. Mengapa? Menurut saya, sekolah tidak semata-mata soal gelar dan ijazah. Sekolah mengajarkan banyak hal tentang kehidupan. Sekolah mengajarkan tentang disiplin, baik disiplin waktu maupun disiplin dalam peraturan. Sekolah mengajarkan untuk sabar saat digembleng, digembleng guru yang galak, guru yang membosankan, guru yang penuh luka batin, tapi ada juga guru yang benar-benar guru. Sekolah mengajarkan untuk membangun hubungan, dengan teman, dengan guru, dan dengan banyak orang. Sekolah mengajarkan tentang kepemimpinan. Sekolah mengajarkan tentang manajemen, mengatur waktu, mempersiapkan ini itu. Sekolah mengajarkan tentang strategi, bagaimana bisa berkompetisi dengan sehat. Dan masih ada banyak lagi yang diajarkan sekolah, yang sulit didapat di luar bangku sekolah.

Benar, sekolah tinggi bukan segala-galanya. Benar bahwa gelar akademis bukan jaminan sukses. Walau demikian, jika ada kesempatan untuk sekolah. gunakan kesempatan itu sebaik-baiknya. Kita tidak akan pernah rugi karena sekolah, asal sekolah yang benar-benar sekolah, bukan asal lulus saja. Mengutip kata firman Tuhan, "Perolehlah hikmat. perolehlah pengertian." (Amsal ay. 5).

Memang sekolah bukan segala-galanya, tapi sekolah mengajarkan banyak hal dalam kehidupan.

 


Selasa, 23 November 2021

Ada seorang tukang sepatu yang selalu ceria dan bahagia. Setiap hari ia selalu menyanyi dengan gembira bersama keluarganya.

Sementara itu tukang sepatu memiliki tetangga yang sangat kaya raya. Pekerjaannya setiap hari adalah menghitung uang yang tidak pernah habis.

Orang kaya itu sangat terganggu dengan nyanyian si tukang sepatu. Tetapi ia bingung mencari cara untuk membungkam mulutnya agar tidak bernanyi lagi. Lalu ia menemukan akal. Dipanggilnya tukang sepatu itu. Lalu orang kaya itu memberinya uang satu tas. Tukang sepatu itu menerimanya dengan sangat senang. Segera tas berisi uang itupun dibawanya pulang dan diserahkan kepada istrinya.

Istri tukang sepatu itu terkejut  dan senang dengan pemberian tersebut. Maka dibukanyalah tas tersebut dan dihitungnya uang itu lembar per lembar. Sementara istrinya menghitung uang, tukang sepatu itu bernyanyi riang.

Ketika menghitung uang dalam tas tersebut, dahi istri tukang sepatu tiba-tiba berkerut. Rupanya ia bingung dengan jumlah uang yang dihitungnya. Ia hitung sekali lagi dan ternyata jumlahnya adalah Rp 99.700.000,-. Ia tidak percaya bila uang dalam tas tersebut jumlahnya seperti itu. Ia hitung berkali-kali dan ternyata jumlahnya tetap Rp 99.700.000,-. Semakin berkerutlah kening istri tukang sepatu sambil bergumam, “Hmmmm, semestinya jumlahnya Rp 100.000.000,- . Tidak mungkin kalau jumlahnya ganjil seperti ini. Kemana yang Rp 300.000,- itu?”

Istri tukang sepatu itu mulai bertanya kepada suaminya. Dan suaminya menjawab bahwa ia tidak mengutak-atik uang dalam tas tersebut.

Makin berkernyitlah kening istri tukang sepatu. Ia mulai curiga kepada suaminya.

“Jangan jangan duitnya disembunyikan ya!”

“Jangan jangan kau mempunyai istri simpanan ya!”

Dan seterusnya.

Pertanyaan-pertanyaan itu mulai menggelisahkan hatinya sehingga akhirnya meledak menjadi pertengkaran. Sejak saat itu rumah tukang sepatu tidak lagi terdengar suara nyanyian dan keceriaan lagi, tetapi pertengkaran demi pertengkaran menghiasi kehidupan keluarga tukang sepatu.

Damai dan sukacita itu lebih bernilai dari sekedar kekayaan dunia.


Rabu, 17 November 2021

Artikel Teladan dan Inspirasi Tokoh
  • Oleh 
Gembala Dr. Socratez S.Yoman,MA

Mahatma Gandhi bukan orang Kristen. Gandhi juga mengatakan saya tidak harus menjadi orang Kristen. Mahatma mengatakan bahwa walaupun saya bukan orang Kristen dan tidak percaya Yesus Kristus, saya mau melaksanakan pengajaran dan perkataan Yesus. Mahatma memegang dan menjadikan pijakannya apa yang Tuhan Yesus ajarkan dan katakan. "Bukan setiap orang yang berkata kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga" (Matius 7:21). Gandhi mengatakan: "Yesus Kristus dicobai Iblis tiga kali di padang gurun dan Yesus tidak kompromi dengan Iblis dan Yesus menang dan Iblis kalah." Sama seperti Yesus tidak kompromi dengan Iblis, maka saya juga tidak akan kompromi dengan kekuasaan Kerajaan Inggris yang menduduki dan menjajah bangsa saya. Saya dengan rakyat India melawan kekuasaan Kerajaan Inggris sampai rakyat India benar-benar merdeka dan bebas di atas tanah leluhur mereka. Gandhi mengatakan, Kerajaan Inggris mempunyai kekuasaan. Mereka mempunyai pusakan tentara lengkap dengan pesawat tempur, kapal perang, tank-tank dan didukung dengan keuangan. Mahatma mengatakan. Saya mempunyai perlengkapan perang melebihi dan melampaui apa yang dimiliki Kerajaan Inggris. Saya memiliki kekuatan senjata yang mampu dan sanggup melumpuhkan dan menghancurkan serta membungkan mulut kekuasaan Kerajaan Inggris. Saya yakin Kerajaan Inggris pasti kalah dalam perang. Saya dengan rakyat India pasti menang. Karena kekuatan senjata yang saya miliki tidak ada pada kekuasaan Kerajaan Inggris. Kerajaan Inggris tidak mampu membeli kekuatan senjata yang saya miliki walapun mereka mempunyai banyak uang. Gandhi mengatakan: Kekuatan senjata saya dan rakyat India untuk mengalahkan kekuasaan Kerajaan Inggris ialah perjuangan dengan jalan DAMAI. Seperti Yesus mengalahkan kuasa Iblis dan kuasa dosa dengan jalan DAMAI. Karena itu, saya tidak menjadi orang Kristen, tetapi saya melaksanakan ajaran dan perkataan Yesus. "Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah" (Matius 5:9). Mahadma Gandhi percaya bahwa perjuangan dengan jalan DAMAI tidak mengorbankan rakyat India dan juga tidak mengorbankan serdadu-serdadu Inggris. Pada 30 Mei 2020 saya mengajukan pertanyaan. Pertanyaan Untuk Seluruh Rakyat Papua. Siapa yang mendapat keuntungan besar ketika para pejuang West Papua Merdeka berjuang dengan jalan menggunakan kekerasan senjata/perang? 1. Rakyat dan bangsa West Papua. 2. Pemerintah Indonesia TNI-Polri Penulis mendapat beberapa jawaban pertanyaan saya. Terima kasih saya telah mendapat jawaban dari beberapa orang. Jawaban mereka sebagai berikut: "Jawabannya Nomor 2. Pemerintah Indonesia TNI-POLRI mendapat keuntungan besar. Kalau jalan kekerasan digunakan." "Nomor 2. Akan terjadi penambahan pasukan TNI-Polri di Papua. Mereka dapat banyak keuntungan. Kebanyakan rakyat menjadi korban. Dunia internasional tidak akan mendukung perjuangan dengan kekerasan." "Nomor 2. Kekerasan itu milik Indonesia. TNI-Polri senang kekerasan di Papua. Kekerasan Timor Leste dan Aceh sudah berhenti. Papua daerah kekerasan militer." "Nomor 2, karena kekerasan rakyat banyak mati. Internasional tidak dukung kita. Internasional sangat kekerasan. ULMWP sudah berjuang dengan jalan damai." "Nomor 2 karena Dewan Gereja Dunia sudah dukung ULMWP karena berjuang jalan damai. Pasti gereja tidak senang dan tolak kekerasan." "Nomor 2, saya pikir dulu waktu John Rumbiak sudah ketemu Jenderal Kelly Kwalik, Jenderal Yustinus Murip, Jenderal Goliat Tabuni dan juga Jenderal Yoweni untuk berjuang dengan jalan damai. Saya pikir Pak Yoman tahu proses itu. Kita tiap hari hari diskusi di kantor ELSHAM Padang Bulan. Kita perlu cek pernyataan itu." Penulis juga ajukan pertanyaan kepada para pejuang keadilan, perdamaian, martabat manusia dan penentuan nasib sendiri rakyat dan bangsa West Papua. Apakah Anda mengambil teladan atau contoh perjuangan Mahatma Gandhi? Jalan mana yang tepat supaya tidak korbankan rakyat dan korbankan pihak musuh seperti yang ditempuh Mahatma Gandhi? Mahadma Gandhi juga menerapkan pesan Yesus. Mencari jalan yang tepat dengan menebarkan jalan di tempat yang tepat untuk membebaskan bangsanya dari kolonial Kerajaan Inggris. "Tebarkanlah jalamu di sebelah kanan perahu, maka akan kamu memperoleh" (Yohanes 21: 6). Apa artinya dari pesan Firman Tuhan ini? Tuhan Yesus sampaikan mengubah pola dan strategi perjuangan Papua Barat merdeka sesuai dengan perubahan dan perkembangan era. Sekarang era moderen, era digital, era teknologi, era medsos. Karena itu, tebarkanlah jala ke arah yang baru, strategi yang baru dengan inovasi yang baru, kreativitas yang baru, dan harus tinggalkan gaya dan pola primitif, kuno dan usang. Mahatma Gandhi telah mengajarkan kepada para pejuang Papua Barat. "Saya tidak harus menjadi orang Kristen tetapi saya melaksanakan ajaran dan perkataan Yesus, yaitu berjuang dengan jalan DAMAI, DAMAI, DAMAI sampai India merdeka bukan kekerasan. Sesungguhnya cukup banyak senjata ampuh yang dimiliki para pejuang, sebut saja seperti: RASISME, pelanggaran berat ham, sejarah pepera 1969 yg tidak demokratis, perampasan tanah, kegagalan otsus, marjinalisasi (peminggiran) penduduk asli Papua, perampasan hak politik dalam legislatif dan tahanan politik, tahanan rasisme dan masih banyak. Semuanya dapat diperjuangkan dengan jalan DAMAI. Anda pasti menang dan kalahkan musuh. Lahirnya Kesadaran Mohandas Mahatma Gandhi John McCain bersama Mark Salter dalam buku berjudul: "Karakter-Karakter yang Menggugah Dunia" dengan sangat indah mengabadikan pengalaman Moh.Gandhi, bapak dari rakyat & bangsa India. Gandhi berpendidikan hukum di London dan berprofesi menjadi penasihat hukum. Kembali ke India dari London, Inggris dan dari India Gandhi ke Durban Afrika Selatan menjadi Penasihat hukum/Pengacara. Penguasa Apartheid menamakan orang-orang India di Afrika Selatan dengan sebut "coolie" atau "Sami" artinya pelayan atau pesuruh. Untuk pertama kalinya, Gandhi menjadi penasihat hukum/pembela Abdullah Seth. Dalam ruang persidangan Gandhi diminta lepaskan turban/tutup kepala Indianya. Ia marah dan tinggalkan ruang sidang. Ia mau melepaskannya tapi Abdullah nasihati dia jangan melepaskannya. Kalau dilepaskan berarti ia akan mengecilkan hati orang India di Afrika Selatan. Gandhi berbicara di koran Durban dan mengatakan bahwa ia tidak akan melepaskan hak untuk berbusana sesuai kebiasaan di negerinya dan bangsanya menggunakan turban. Masalah ini dibahas banyak koran di Durban dan seluruh Afrika Selatan. Penguasa Apartheid menghina Gandhi dengan julukan: " Tamu yang tidak diharapkan dan Penasihat kelas coolie." Beberapa hari kemudian Abdullah Seth mengirim Gandhi ke Pretoria dengan tiket kereta api kelas utama. Seorang penumpang kulit putih yang memasuki gerbong kelas utama merasa gusar dan marah menemukan seorang coolie berbusana Inggris duduk nyaman bersama orang Eropa. Orang kulit putih ini mengajukan protes kepada kondektur, dan Gandhi segera dipindahkan ke gerbong kelas tiga. Gandhi menolak. Ia diusir dan barang-barangnya disita dan ditinggalkan kedinginan yang luar biasa di malam musim dingin di ruang tunggu stasiun kerepa api. Besoknya ia naik kereta yang lain dengan lancar. Tapi dalam perjalanannya ia dihina lebih parah. Gandhi disuruh pindah ke gerbong sebelah pengemudi. Ia menurut dan tidak mau diturunkan lagi. Kondektur marah besar dan memukul dan mencederai dengan serius jika penumpang lain tak melerai dan boleh duduk bersama mereka. "Gandhi mengalami penghinaan... selama tinggal di Afrika Selatan. Dalam beberapa minggu saja, ia menemukan bahwa orang Eropa abad ke-19 menganut hierarki ras, bahwa mereka ada di atas dan orang kulit berwarna di bawah. Perjalanan ke Pretoria melahirkan perubahan besar dalam dirinya. Lenyap sudah rasa malu. Lenyap sudah rasa tak peduli. Lenyap sudah kenaifan tentang cara kerja dunia. Lenyap sudah ambisi pribadi sederhana untuk hidup pantas bagi keluarganya dan profesi terhormat. Lenyap sudah kebanggaan akan keangkuhan sendiri, digantikan martabat dan kukuh dan penghormatan akan martabat setiap manusia, teman maupun musuh, tak lebih besar atau kecil daripada penghormatan pada martabatnya sendiri. Inilah yang sungguh-sungguh menjadikannya sebagai Mahatma. Kelak ia memandang penghinaan itu dengan rasa syukur, karena semua merupakan petunjuk baginya. Ia menganggap itu sebagai titik balik kehidupannya. Jadi, Tuhan meletakkan batu landasan hidup saya di Afrika Selatan, tulisnya." (2002: hal 16,17). 

Doa dan harapan penulis, artikel pendek ini berguna untuk para pembaca. Ita Wakhu Purom, Minggu, 31 Mei 2020 Penulis: 1. Presiden Persekutuan Gereja-gereja Baptis West Papua; 2. Anggota Dewan Gereja Papua (DGP). Kontak: 08124888458

Kamis, 11 November 2021

 Artikel Oleh Gembala Dr. Socratez Yoman Kolonialisme, militerisme, kapitalisme, rasisme, fasisme, ketidakadilan, marginalisasi, pelanggaran berat HAM, genosida (genocide), sejarah Pepera 1969 yang cacat hukum, moral dan tidak demokratis yang dimenangkan ABRI (kini: TNI) dengan moncong senjata adalah sumber sejarah konflik kekerasan Negara  yang terlama/terpanjang di Asia yang menyebabkan wilayah Papua menjadi luka membusuk dan bernanah di dalam tubuh bangsa Indonesia. 

Sumber luka membusuk dan bernanah ini selalu dibalut atau disembunyikan dengan mitos-mitos, stigma dan label yang diproduksi oleh penguasa kolonial firaun modern Indonesia yang menduduki dan menindas rakyat dan bangsa Papua Barat sejak 1 Mei 1963. Mitos-mitos, stigma dan label yang diproduksi dan digunakan negara seperti: separatis, makar, opm, kkb, dan teroris. 

Presisen Ir. Joko Widodo tidak berdaya (powerless) karena berada dibawah sayap atau ketiak, bahkan punggung militer dalam kepemimpin periode pertama dan periode kedua. Kesan penulis, Jokowi pelindung dan pemelihara para militer di tangannya berdarah-darah atau pelaku kejahatan kemanusiaan ( crime against humanity) yang menikmati impunitas. 

Dengan tepat Theo van den broek mengatakan: 

"...suara yang begitu terang untuk meminta perubahan pendekatan dalam menagani persoalan Papua, dari pendekatan keamanan ke pendekatan dialog, tidak didengar oleh pemerintahan di Jakarta. Bahkan, Presiden Jokowi semakin bergerak ke belakang dan perlahan-lahan keluar dari kerumitan persoalan Papua, sedangkan panggung semakin diduduki oleh pensiunan militer: Moeldoko, Ryamizard, Henropriyono, Prabowo, dan Wiranto. Dan, hal ini bukan berita baik bagi Papua." (Sumber: Tuntut Martabat, Orang Papua Dihukum, 2019: 35). 

Nur Hidayati juga mengatakan apa yang dilalukan Presiden Ir. Joko Widodo adalah cacat.  "Pendekatan Jokowi ke Provinsi yang bergolak (Papua) itu pada dasarnya cacat." (Sumber: www.low-justice.co/22 Oktober 2021). 

Prof. Dr. Franz Magnis sudah sampaikan kesimpulan penderitaan rakyat Papua dengan sempurna dan jelas sebagai berikut. 

"Ada kesan bahwa orang-orang Papua mendapat perlakuan seakan-akan mereka belum diakui sebagai manusia. Kita teringat pembunuhan keji terhadap Theys Eluay dalam mobil yang ditawarkan kepadanya unuk pulang dari sebuah resepsi Kopassus." 

"Situasi di Papua adalah buruk, tidak normal, tidak beradab, dan memalukan, karena itu tertutup bagi media asing. Papua adalah luka membusuk di tubuh bangsa Indonesia." (hal.255). 

"...kita akan ditelanjangi di depan dunia beradab, sebagai bangsa yang biadab, bangsa pembunuh orang-orang Papua, meski tidak dipakai senjata tajam." (hal.257). (Sumber: Kebangsaan, Demokrasi, Pluralisme). 

Sedangkan Pastor Frans Lieshout, OFM, mengatakan: 

"Orang Papua telah menjadi minoritas di negeri sendiri. Amat sangat menyedihkan. Papua tetaplah luka bernanah di Indonesia." (Sumber: Pastor Frans Lieshout,OFM: Guru dan Gembala Bagi Papua, 2020:601). 

Salah satu obat untuk menyembuhkan luka membusuk dan bernanah di dalam tubuh bangsa Indonesia, Senator asal Aceh, Fachrul Razi usai menghadiri Rapat Komite I di Gedung DPD RI, Senayan, pada  Senin (18/11/2019)
mengatakan: 

“Permasalahan Papua harus dirserahkan ke rakyat Papua sendiri. Jangan melihat Papua dalam kerangka pemerintah pusat atau kacamata provinsi lain. Lihatlah Papua dari hati dan jiwa rakyat Papua.” 

“Kita harus jujur dan berani menyatakan kebenaran bahwa memang terjadi pelanggaran HAM berat di Papua,” 

“Berikan Papua otonomi yang sangat luas. Sebab saya melihat otonomi khusus Papua saat ini bukan otonomi sebenarnya. Jadi jangan lagi dijanji-janjikan otsus (otonomi khusus-red). Otsus itu kan saya lihat ujung-ujungnya tipu-tipu juga.” 

“Jadi berikan Papua itu mengelola pemerintahannya sendiri, mengelola sumberdaya alamnya sendiri, serta mengelola sumberdaya manusianya sendiri." 

Diharapkan, solusi untuk mengakhiri semua persoalan ini ialah perundingan atau dialog damai yang setara antara RI-ULMWP yang dimediasi pihak ketiga yang netral tanpa syarat, seperti GAM Aceh-RI yang pernah dimediasi Helsinki pada 15 Agustus 2015. 

Doa dan harapan saya, tulisan ini membuka wawasan  para pembaca. Selamat mengecap dan menikmati tulisan ini. 

Ita Wakhu Purom, 4 November 2021 

Penulis: 

1. Presiden Persekutuan Gereja-gereja Baptis West Papua (PGBWP)
2. Anggota Dewan Gereja Papua (WPCC).
3. Anggota Konferensi Gereja-Gereja Pasifik (PCC).
4. Aliansi Baptis Dunia (BWA).


Rabu, 10 November 2021

 Ini dapat menimbulkan beberapa pertanyaan?


Apa yang Rakyat Papua Inginkan..?
Mengapa rakyat Papua Barat ingin merdeka di luar Indonesia?
Mengapa rakyat Papua Barat masih tetap meneruskan perjuangan mereka?
Kapan mereka mau berhenti berjuang?
Ada empat faktor yang mendasari keinginan rakyat Papua Barat untuk memiliki negara sendiri yang merdeka dan berdaulat di luar penjajahan manapun, yaitu:

1. Hak
2. Budaya
3. Latar Belakang Sejarah
4. Realitas Kehidupan

1. Hak
Kemerdekaan adalah »hak« berdasarkan Deklarasi Universal HAM (Universal Declaration on Human Rights) yang menjamin hak-hak individu dan berdasarkan Konvenant Internasional Hak-Hak Sipil dan Politik yang menjamin hak-hak kolektif di dalam mana hak penentuan nasib sendiri (the right to self-determination) ditetapkan.
»All peoples have the right of self-determination. By virtue of that right they freely determine their political status and freely pursue their economic, social and cultural development - Semua bangsa memiliki hak penentuan nasib sendiri. Atas dasar mana mereka bebas menentukan status politik mereka dan bebas melaksanakan pembangunan ekonomi dan budaya mereka«
(International Covenant on Civil and Political Rights, Article 1). Nation is used in the meaning of People (Roethof 1951:2) and can be distinguished from the concept State - Bangsa digunakan dalam arti Rakyat (Roethof 1951:2) dan dapat dibedakan dari konsep Negara (Riop Report No.1). Riop menulis bahwa sebuah negara dapat mencakup beberapa bangsa, maksudnya kebangsaan atau rakyat (A state can include several nations, meaning Nationalities or Peoples).
Ada dua jenis the right to self-determination (hak penentuan nasib sendiri), yaitu external right to self-determination dan internal right to self-determination.
External right to self-determination yaitu hak penentuan nasib sendiri untuk mendirikan negara baru di luar suatu negara yang telah ada. Contoh: hak penentuan nasib sendiri untuk memiliki negara Papua Barat di luar negara Indonesia. External right to self-determination, or rather self-determination of nationalities, is the right of every nation to build its own state or decide whether or not it will join another state, partly or wholly (Roethof 1951:46) - Hak external penentuan nasib sendiri, atau lebih baiknya penentuan nasib sendiri dari bangsa-bangsa, adalah hak dari setiap bangsa untuk membentuk negara sendiri atau memutuskan apakah bergabung atau tidak dengan negara lain, sebagian atau seluruhnya (Riop Report No.1). Jadi, rakyat Papua Barat dapat juga memutuskan untuk berintegrasi ke dalam negara tetangga Papua New Guinea. Perkembangan di Irlandia Utara dan Irlandia menunjukkan gejala yang sama. Internal right to self-determination yaitu hak penentuan nasib sendiri bagi sekelompok etnis atau bangsa untuk memiliki daerah kekuasaan tertentu di dalam batas negara yang telah ada. Suatu kelompok etnis atau suatu bangsa berhak menjalankan pemerintahan sendiri, di dalam batas negara yang ada, berdasarkan agama, bahasa dan budaya yang dimilikinya. Di Indonesia dikenal Daerah Istimewa Jogyakarta dan Daerah Istimewa Aceh. Pemerintah daerah-daerah semacam ini biasanya dilimpahi kekuasaan otonomi ataupun kekuasaan federal. Sayangnya, Jogyakarta dan Aceh belum pernah menikmati otonomi yang adalah haknya.

2. Budaya
Rakyat Papua Barat, per definisi, merupakan bagian dari rumpun bangsa atau ras Melanesia yang berada di Pasifik, bukan ras Melayu di Asia. Rakyat Papua Barat memiliki budaya Melanesia. Bangsa Melanesia mendiami kepulauan Papua (Papua Barat dan Papua New Guinea), Bougainville, Solomons, Vanuatu, Kanaky (Kaledonia Baru) dan Fiji. Timor dan Maluku, menurut antropologi, juga merupakan bagian dari Melanesia. Sedangkan ras Melayu terdiri dari Jawa, Sunda, Batak, Bali, Dayak, Makassar, Bugis, Menado, dan lain-lain.
Menggunakan istilah ras di sini sama sekali tidak bermaksud bahwa saya menganjurkan rasisme. Juga, saya tidak bermaksud menganjurkan nasionalisme superior ala Adolf Hitler (diktator Jerman pada Perang Dunia II). Adolf Hitler menganggap bahwa ras Aria (bangsa Germanika) merupakan manusia super yang lebih tinggi derajat dan kemampuan berpikirnya daripada manusia asal ras lain. Rakyat Papua Barat sebagai bagian dari bangsa Melanesia merujuk pada pandangan Roethof sebagaimana terdapat pada ad 1 di atas.

3. Latarbelakang Sejarah
Kecuali Indonesia dan Papua Barat sama-sama merupakan bagian penjajahan Belanda, kedua bangsa ini sungguh tidak memiliki garis paralel maupun hubungan politik sepanjang perkembangan sejarah. Analisanya adalah sebagai
berikut:

Pertama: Sebelum adanya penjajahan asing, setiap suku, yang telah mendiami Papua Barat sejak lebih dari 50.000 tahun silam, dipimpin oleh kepala-kepala suku (tribal leaders). Untuk beberapa daerah, setiap kepala suku dipilih secara demokratis sedangkan di beberapa daerah lainnya kepala suku diangkat secara turun-temurun. Hingga kini masih terdapat tatanan pemerintahan tradisional di beberapa daerah, di mana, sebagai contoh, seorang Ondofolo masih memiliki kekuasaan tertentu di daerah Sentani dan Ondoafi masih disegani oleh masyarakat sekitar Yotefa di Numbai. Dari dalam tingkat pemerintahan tradisional di Papua Barat tidak terdapat garis politik vertikal dengan kerajaan-kerajaan kuno di Indonesia ketika itu.
Kedua: Rakyat Papua Barat memiliki sejarah yang berbeda dengan Indonesia dalam menentang penjajahan Belanda dan Jepang. Misalnya, gerakan Koreri di Biak dan sekitarnya, yang pada awal tahun 1940-an aktif menentang kekuasaan Jepang dan Belanda, tidak memiliki garis komando dengan gerakan kemerdekaan di Indonesia ketika itu. Gerakan Koreri, di bawah pimpinan Stefanus Simopiaref dan Angganita Menufandu, lahir berdasarkan kesadaran pribadi bangsa Melanesia untuk memerdekakan diri di luar penjajahan asing.
Ketiga: Lamanya penjajahan Belanda di Indonesia tidak sama dengan lamanya penjajahan Belanda di Papua Barat. Indonesia dijajah oleh Belanda selama sekitar 350 tahun dan berakhir ketika Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia pada 27 Desember 1949. Papua Barat, secara politik praktis, dijajah oleh Belanda selama 64 tahun (1898-1962).
Keempat: Batas negara Indonesia menurut proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 adalah dari »Aceh sampai Ambon«, bukan dari »Sabang sampai Merauke«. Mohammed Hatta (almarhum), wakil presiden pertama RI dan lain-lainnya justru menentang dimasukkannya Papua Barat ke dalam Indonesia (lihat Karkara lampiran I, pokok Hindia Belanda oleh Ottis Simopiaref).
Kelima: Pada Konferensi Meja Bundar (24 Agustus - 2 November 1949) di kota Den Haag (Belanda) telah dimufakati bersama oleh pemerintah Belanda dan Indonesia bahwa Papua Barat tidak merupakan bagian dari negara Republik Indonesia Serikat (RIS). Status Nieuw-Guinea akan ditetapkan oleh kedua pihak setahun kemudian. (Lihat lampiran II pada Karkara oleh Ottis Simopiaref).
Keenam: Papua Barat pernah mengalami proses dekolonisasi di bawah pemerintahan Belanda. Papua Barat telah memiliki bendera national »Kejora«, »Hai Tanahku Papua« sebagai lagu kebangsaan dan nama negara »Papua Barat«. Simbol-simbol kenegaraan ini ditetapkan oleh New Guinea Raad / NGR (Dewan New Guinea). NGR didirikan pada tanggal 5 April 1961 secara demokratis oleh rakyat Papua Barat bekerjasama dengan pemerintah Belanda. Nama negara, lagu kebangsaan serta bendera telah diakui oleh seluruh rakyat Papua Barat dan pemerintah Belanda.
Ketujuh: Dari 1 Oktober 1962 hingga 1 Mei 1963, Papua Barat merupakan daerah perwalian PBB di bawah United Nations Temporary Executive Authority (UNTEA) dan dari tahun 1963 hingga 1969, Papua Barat merupakan daerah perselisihan internasional (international dispute region). Kedua aspek ini menggaris-bawahi sejarah Papua Barat di dunia politik internasional dan sekaligus menunjukkan perbedaannya dengan perkembangan sejarah Indonesia bahwa kedua bangsa ini tidak saling memiliki hubungan sejarah.
Kedelapan: Pernah diadakan plebisit (Pepera) pada tahun 1969 di Papua Barat yang hasilnya diperdebatkan di dalam Majelis Umum PBB. Beberapa negara anggota PBB tidak setuju dengan hasil Pepera (Penentuan Pendapat Rakyat) karena hanya merupakan hasil rekayasa pemerintah Indonesia. Adanya masalah Papua Barat di atas agenda Majelis Umum PBB menggaris-bawahi nilai sejarah Papua Barat di dunia politik internasional. Ketidaksetujuan beberapa anggota PBB dan kesalahan PBB dalam menerima hasil Pepera merupakan motivasi untuk menuntut agar PBB kembali memperbaiki sejarah yang salah. Kesalahan itu sungguh melanggar prinsip-prinsip PBB sendiri. (Silahkan lihat lebih lanjut pokok tentang Pepera dalam Karkara oleh Ottis Simopiaref).
Kesembilan: Rakyat Papua Barat, melalui pemimpin-pemimpin mereka, sejak awal telah menyampaikan berbagai pernyataan politik untuk menolak menjadi bagian dari RI. Frans Kaisiepo (almarhum), bekas gubernur Irian Barat, pada konferensi Malino 1946 di Sulawesi Selatan, menyatakan dengan jelas bahwa rakyatnya tidak ingin dihubungkan dengan sebuah negara RI (Plunder in Paradise oleh Anti-Slavery Society). Johan Ariks (alm.), tokoh populer rakyat Papua Barat pada tahun 1960-an, menyampaikan secara tegas perlawanannya terhadap masuknya Papua Barat ke dalam Indonesia (Plunder in Paradise oleh Anti-Slavery Society). Angganita Menufandu (alm.) dan Stefanus Simopiaref (alm.) dari Gerakan Koreri, Raja Ati Ati (alm.) dari Fakfak, L.R. Jakadewa (alm.) dari DVP-Demokratische Volkspartij, Lodewijk Mandatjan (alm.) dan Obeth Manupapami (alm.) dari PONG-Persatuan Orang Nieuw-Guinea, Barend Mandatjan (alm.), Ferry Awom (alm.) dari Batalyon Papua, Permenas Awom (alm.), Jufuway (alm.), Arnold Ap (alm.), Eliezer Bonay (alm.), Adolf Menase Suwae (alm.), Dr. Thomas Wainggai (alm.), Nicolaas Jouwe, Markus Wonggor Kaisiepo dan lain-lainnya dengan cara masing-masing, pada saat yang berbeda dan kadang-kadang di tempat yang berbeda memprotes adanya penjajahan asing di Papua Barat.

4. Realitas Sekarang
Rakyat Papua Barat menyadari dirinya sendiri sebagai bangsa yang terjajah sejak adanya kekuasaan asing di Papua Barat. Kesadaran tersebut tetap menjadi kuat dari waktu ke waktu bahwa rakyat Papua Barat memiliki identitas tersendiri yang berbeda dengan bangsa lain. Di samping itu, penyandaran diri setiap kali pada identitas pribadi yang adalah dasar perjuangan, merupakan akibat dari kekejaman praktek-praktek kolonialisme Indonesia. Perlawanan menjadi semakin keras sebagai akibat dari (1) penindasan yang brutal, (2) adanya ruang-gerak yang semakin luas di mana seseorang dapat mengemukakan pendapat secara bebas dan (3) membanjirnya informasi yang masuk tentang sejarah Papua Barat. Rakyat Papua Barat semakin mengetahui dan mengenal sejarah mereka. Kesadaran merupakan basis untuk mentransformasikan realitas, sebagaimana almarhum Paulo Freire (profesor Brasilia dalam ilmu pendidikan) menulis. Semangat juang menjadi kuat sebagai akibat dari kesadaran itu sendiri.
Pada tahun 1984 terjadi exodus besar-besaran ke negara tetangga Papua New Guinea dan empat pemuda. Memasuki kedutaan besar Belanda di Jakarta untuk meminta suaka politik. Permintaan suaka politik ke kedubes Belanda merupakan yang pertama di dalam sejarah Papua Barat. Gerakan yang dimotori Kelompok Musik-Tari Tradisional, Mambesak di bawah pimpinan Arnold Ap (alm.) merupakan manifestasi politik anti penjajahan yang dikategorikan terbesar sejak tahun 1969. Kebanyakan anggota Mambesak mengungsi dan berdomisili di Papua New Guinea sedangkan sebagian kecil masih berada dan aktif di Papua Barat.

Dr. Thomas Wainggai (alm.) memimpin aksi damai besar pada tanggal 14 Desember 1988 dengan memproklamirkan kemerdekaan negara Melanesia Barat (Papua Barat). Setahun kemudian pada tanggal yang sama diadakan lagi aksi damai di Numbai (nama pribumi untuk Jayapura) untuk memperingati 14 Desember. Dr. Thom Wainggai dijatuhkan hukuman penjara selama 20 tahun, namun beliau kemudian meninggal secara misterius di penjara Cipinang. Papua Barat dilanda berbagai protes besar-besaran selama tahun 1996. Tembagapura bergelora bagaikan air mendidih selama tiga hari (11-13 Maret). Numbai terbakar tanggal 18 Maret menyusul tibanya mayat Thom Wainggai. Nabire dijungkir-balik selama 2 hari (2-3 Juli). Salah satu dari aksi damai terbesar terjadi awal Juli 1998 di Biak, Numbai, Sorong dan Wamena, kemudian di Manokwari. Salah satu pemimpin dari gerakan bulan Juli 1998 adalah Drs. Phillip Karma. Drs. P. Karma bersama beberapa temannya sedang ditahan di penjara Samofa, Biak sambil menjalani proses pengadilan. Gerakan Juli 1998 merupakan yang terbesar karena mencakup daerah luas yang serentak bergerak dan memiliki jumlah massa yang besar. Gerakan Juli 1998 terorganisir dengan baik dibanding gerakan-gerakan sebelumnya. Di samping itu, Gerakan Juli 1998 dapat menarik perhatian dunia melalui media massa sehingga beberapa kedutaan asing di Jakarta menyampaikan peringatan kepada ABRI agar menghentikan kebrutalan mereka di Papua Barat. Berkat Gerakan Juli 1998 Papua Barat telah menjadi issue yang populer di Indonesia dewasa ini. Di samping sukses yang telah dicapai terdapat duka yang paling dalam bahwa menurut laporan dari PGI (Persekutuan Gereja Indonesia) lebih dari 140 orang dinyatakan hilang dan kebanyakan mayat mereka telah ditemukan terdampar di Biak. Menurut laporan tersebut, banyak wanita yang diperkosa sebelum mereka ditembak mati. Realitas penuh dengan represi, darah, pemerkosaan, penganiayaan dan pembunuhan, namun perjuangan tetap akan dilanjutkan. Dan terakhir Kasus Penembakan AKTIVIS PERJUANGAN PAPUA ( MAKO MUSA TABUNI ) Oleh Aparat gabungan NKRI. Rakyat Papua Barat menyadari dan mengenali realitas mereka sendiri. Mereka telah mencicipi betapa pahitnya realitias itu. Mereka hidup di dalam dan dengan suatu dunia yang penuh dengan ketidakadilan, namun kata-kata Martin Luther King masih disenandungkan di mana-mana bahwa »We shall overcome someday!« (Kita akan menang suatu ketika!).


Menurut catatan sementara, diperkirakan bahwa sekitar 400 ribu orang Papua telah meninggal sebagai akibat dari dua hal yaitu kebrutalan ABRI dan kelalaian politik pemerintah. Sadar atau tidak, pemerintah Indonesia telah membuat sejarah hitam yang sama dengan sejarah Jepang, Jerman, Amerikat Serikat, Yugoslavia dan Rwanda. Jepang

Sejarah Papua Barat telah menjadi kuat, sarat, semakin terbuka dan kadang-kadang meledak. Perjuangan kemerdekaan Papua Barat tidak pernah akan berhenti atau dihentikan oleh kekuatan apapun kecuali ketiga faktor (hak, budaya dan latarbelakang sejarah) tersebut di atas dihapuskan keseluruhannya dari kehidupan manusia bermartabat. Rakyat Papua Barat akan meneruskan perjuangannya untuk menjadi negara tetangga yang baik dengan Indonesia. Rakyat Papua Barat akan meneruskan perjuangannya untuk menjadi bagian yang setara dengan masyarakat internasional. Perjuangan akan dilanjutkan hingga perdamaian di Papua Barat tercapai. Anak-anak, yang orang-tuanya dan kakak-kakaknya telah menjadi korban kebrutalan ABRI tidak akan hidup damai selama Papua Barat masih merupakan daerah jajahan. Mereka akan meneruskan perjuangan kemerdekaan Papua Barat. Mereka akan meneriakkan pekikan Martin Luther King, pejuang penghapusan perbedaan warna kulit di Amerka Serikat, "Lemparkan kami ke penjara, kami akan tetap menghasihi. Lemparkan bom ke rumah kami, dan ancamlah anak-anak kami, kami tetap mengasihi". Rakyat Papua Barat mempunyai sebuah mimpi yang sama dengan mimpinya Martin Luther King, bahwa »kita akan menang suatu ketika«.


--------------------------------------------------------------------------------
Tulisan di atas dipetik dari diktat berjudul Karkara karangan Ottis Simopiaref. Ottis Simopiaref lahir tahun 1953 di Biak, Papua Barat dan sedang berdomisi di Belanda sejak 14 Maret 1984 setelah bersama tiga temannya lari dan meminta suaka politik di Kedutaan Besar Belanda di Jakarta tanggal 28 Februari 1984.
--------------------------------------------------------------------------------

Sekelompok turis memiliki waktu tiga puluh menit untuk menyaksikan matahari terbit di puncak gunung.

Begitu fajar tiba, semua sibuk berfoto. Akibatnya, mereka tidak sempat berdiam diri untuk menyaksikan indahnya momen itu; saat sinar matahari perlahan-lahan menerangi gunung dan lembah; saat langit berubah menjadi jingga; betapa agungnya burung-burung elang terbang di kejauhan dengan pekikan suara membelah kesunyian pagi; menikmati hangatnya matahari pagi menerpa wajah.

Para turis pulang dengan hanya membawa koleksi foto, tetapi kehilangan momen terindah! Mereka pernah ke sana, tetapi tak pernah sungguh hadir di sana.

Hal serupa terjadi atas Marta. Ketika Yesus mendatangi rumahnya, ia sibuk memasak. Marta ingin menjadi tuan rumah yang baik. Namun, kesibukan itu membuatnya kehilangan momen untuk bersama-sama dengan Yesus. "Hanya satu saja yang perlu," kata Yesus. Dia tidak perlu makanan lezat. Dia mengharapkan kehadiran Marta. Sebuah persekutuan seperti yang dilakukan oleh Maria.

Tuhan kerap memberi momen yang indah kepada kita. Momen untuk beribadah di gereja. Momen untuk bercengkerama bersama keluarga. Momen untuk menunjukkan rasa cinta pada hari ulang tahun kekasih kita. Momen untuk menyaksikan keindahan alam ciptaan Tuhan. Pastikan kita benar-benar hadir dan menikmati tiap momen. Jangan sampai kesibukan kita merusak momen itu.


AD BANNER

BTemplates.com

Kategori

AD BANNER

Aku Papua

Aku Papua

Izaak S Kijne

Izaak S Kijne

Firman Tuhan


"Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain dan sambil menyanyikan mazmur, dan puji-pujian dan nyanyian rohoni, kamu mengucap syurkur kepada Allah di dalam hatimu"



" KOLOSE 3:16"


Post Top Ad

Your Ad Spot

Sponsor

test
Responsive Ads Here

Pengikut

Popular Posts